KONTENBOLA.COM — Induk organisasi sepak bola dunia (FIFA) kembali berguncang. Presiden FIFA, Gianni Infantino, kini berada di bawah tekanan besar dari berbagai federasi sepak bola internasional setelah rencana kontroversialnya yang dinamai FIFA Forward Enterprise (FFE) terbongkar ke publik.
Isu krisis kepemimpinan ini memuncak setelah media Inggris, The Times, menerbitkan laporan investigasi mendalam terkait skema bisnis baru yang diinisiasi oleh Infantino. Dalam skema tersebut, FIFA berencana melepas sekitar 20 hingga 21 persen saham kepemilikan turnamen Piala Dunia kepada pihak ekuitas swasta (private equity).
Langkah Terobosan atau Keserakahan Bisnis?
Berbeda dengan hak siar komersial atau sponsor biasa, langkah Infantino ini dinilai sangat ekstrem karena untuk pertama kalinya dalam sejarah, hak kepemilikan atas turnamen terbesar di dunia tersebut akan dijual kepada pihak ketiga.

Investigasi The Times mengungkapkan bahwa Infantino menetapkan tenggat waktu (deadline) singkat hingga September mendatang agar anggota federasi menyetujui proposal ini secara tertutup (fait accompli).
Tak hanya itu, Infantino disinyalir menyiapkan skema jangka panjang di mana ia berpotensi menduduki posisi komisaris pada entitas pengelola swasta tersebut setelah masa jabatannya berakhir, dengan gaji mencapai 20 juta dolar AS per musim.
Rencana penjualan saham ini dikabarkan melibatkan investor swasta yang memiliki keterkaitan dengan Joshua Kushner (menantu mantan Presiden AS Donald Trump) serta dukungan finansial dari bank investasi global, JP Morgan.
Penolakan Keras Tiga Konfederasi Besar
Langkah sepihak ini memicu gelombang kemarahan dari berbagai pemangku kepentingan sepak bola global. Tiga konfederasi sepak bola terbesar—UEFA (Eropa), AFC (Asia), dan CONCACAF (Amerika Utara & Tengah)—resmi menerbitkan pernyataan bersama (joint statement).

Ketiga konfederasi menegaskan bahwa penolakan mereka bukan disebabkan oleh kesalahpahaman komunikasi (miscommunication), melainkan penolakan mendasar terhadap konsep komersialisasi aset Piala Dunia yang dianggap melanggar integritas sepak bola.
Meskipun ancaman boikot dan desakan mundur kian gencar disuarakan, konstelasi politik FIFA yang menggunakan sistem one man, one vote membuat posisi Infantino masih didukung oleh sejumlah federasi dari negara berkembang serta beberapa negara Timur Tengah.
Krisis ini diprediksi akan menjadi ujian politik terberat bagi kepemimpinan Infantino menjelang agenda Kongres FIFA mendatang.
Rizky Ananda adalah penulis sepak bola di KontenBola.com yang berfokus pada berita bola, jadwal pertandingan, hasil laga, kabar transfer, dan ulasan klub. Ia menyajikan konten dengan bahasa yang ringan, jelas, dan mudah dipahami oleh pembaca Indonesia.



Leave a Reply